Sengketa Tanah Warisan, Hakim PN Rantauprapat Paksakan Perkara

LABUHANBATUSATU|Rantauprapat Perkara sengketa tanah warisan berujung ke jalur hukum. Zulkifli Parapat, warga Dusun Tanjung Beringin, Desa Hutagodang, Kecamatan Sei Kanan, Labuhanbatu Selatan menjadi terdakwa atas laporan Masniari ke Polres Labuhanbatu dan telah menjalani sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) di Pengadilan Negeri Rantauprapat, Jumat (12/11/2021) dengan nomor perkara 424 /Pid.C/2021/PN-RAP.

 

Diketahui, Masriani adalah istri dari Almarhum Sawaluddin Parapat, yang merupakan abang kandung dari terdakwa Zulkifli Parapat. Sidang yang juga menghadirkan saksi-saksi dipimpin Majelis Hakim Hendrik Tarigan bersama Panitera Sarbarita Simanjuntak dan dihadiri Rudi W Harahap dari Penyidik Polres Labuhanbatu.

 

Perkara berawal ketika Almarhum Sawaluddin Parapat meninggal dunia pada 9 Februari 2021. Sepeninggalan Almarhum, ada sebidang tanah yang ditumbuhi pohon kelapa sawit seluas 1.5 Hektar. Lahan itu diklaim Zulkifli Parapat merupakan harta peninggalan orang tua mereka yang selama ini dikelola oleh Almarhum. Namun, Zulkifli dilaporkan dan didakwa dengan penguasaan lahan tanpa izin yang berhak atau kuasanya yang sah oleh kakak iparnya yakni Masniari ke Polres Labuhanbatu.

 

Didalam persidangan, Masriani mengaku bahwa Almarhum suaminya telah membeli tanah tersebut kepada Zulkifli Parapat senilai Rp.260.000.000 pada 20 Maret 2008 lalu. Dia juga membuktikan di persidangan dengan membawa surat ganti rugi atas tanah yang dibeli Almarhum suaminya kepada Zulkifli yang saat itu telah ditandatangani oleh PJ Kepala Desa Hutagodang Poso Siregar dan beberapa saksi.

 

Anehnya, surat jual beli tanah yang dibuktikan dalam persidangan diduga palsu. Sebab, nama dan tanda tangan saksi di dalam surat jual beli atas nama Baringin Parapat dan H.Sangat BS yang dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan mengaku tidak pernah sekalipun menjadi saksi dan melakukan tanda tangan dalam surat jual beli tanah yang dilakukan Almarhum dan Zulkifli Parapat pada 2008 silam. Bahkan, Zulkifli juga mengakui tidak pernah menjual lahan dan menerima uang hasil jual beli sebesar Rp.260.000.000 dari Almarhum.

 

Parahnya lagi, Kepala Desa Hutagodang saat itu PJ Poso Siregar mengaku menandatangani surat jual beli tanah yang dibawa Almarhum Sawaluddin ke rumahnya pada 2008 silam. Padahal, Kades Poso Siregar mengaku tidak tahu lokasi dan luas tanah di dalam surat tersebut. Dia juga mengaku tidak pernah melihat lahan untuk dilakukan pengukuran.

 

Dari fakta lainnya, diketahui Ayah mereka meninggal pada tahun 1994, sementara sang Ibu meninggal pada tahun 2012 lalu. Sejak ayahnya meninggal, lahan seluas 1.5 Hektar dikelola oleh Almarhum Sawaluddin semasa hidupnya. Zulkifli mengatakan dalam persidangan jika dirinya dan Almarhum Sawaluddin menanam sawit bersama. Setelah menghasilkan, Almarhum turut memberikan hasil panen nya untuk Zulkifli.

 

Disini terjadi kejanggalan. Sebab, pada tahun 2008 saat terjadi jual beli tanah, sang Ibu yang merupakan ahli waris atas tanah tersebut tidak ada bukti tanda tangannya. Persidangan yang dipimpin Hakim Hendrik Tarigan pun dinilai terlalu memaksakan tanpa mendengar keterangan saksi-saksi dan bukti yang dilimpahkan.

 

Hal itu disampaikan langsung oleh Penasehat Hukum terdakwa Ronald Syafriansah Nasution,SH. Menurut Ronald, fakta-fakta didalam persidangan sudah terkuak jelas bahwa surat jual beli lahan yg ditunjukan Masniari selaku istri dari Almarhum Sawaluddin adalah palsu.

 

“Ya dari fakta persidangan sudah jelas bahwa 2 orang saksi yang tandatangan di surat jual beli mengaku tidak pernah tahu mengenai surat itu, seharusnya hakim juga menilai itu,”Ungkap Ronald usai menghadiri persidangan.

 

Majelis Hakim memutuskan bersalah terhadap Zulkifli Parapat atas dasar penguasaan lahan yang bukan hak dan kuasanya yang sah dengan kurungan 15 hari penjara sesuai petikan putusan. Terdakwa Zulkifli kemudian mengajukan banding atas putusan yang diterimanya.(Red)

Komentar

Pos terkait