Model Pengajaran Dimasa Pandemi

 

LABUHANBATUSATU| Munculnya wabah Covid-19 di belahan bumi, khususnya di Kabupaten Mandailing Natal, sedikit banyaknya sangat merugikan masyarakat, terutama bagi dunia pendidikan.

Bacaan Lainnya

Dilingkungan penulis sendiri misalnya yang berkebetulan tinggal sekitar lingkungan Sekolah. Awalnya, ramai sekali anak-anak sekolah dasar berkeliaran di sekitar lingkungan sekolah, ada yang berlari, tertawa, jajan, main bola, dan lain-lain. Namun, setelah adanya Covid-19 ini, semua berubah secara total. Suasana yang tadinya ramai dan penuh keceriaan, seketika berubah dibalut oleh kesunyian. Hal itu, di karenakan dikeluarkannya kebijakan pemerintah menutup sekolah untuk sementara waktu. Ditutupnya sekolah, tujuannya adalah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Kejadian ini, bukan hanya terjadi di Kabupaten Mandailing Natal saja, akan tetapi juga terjadi di seluruh daerah yang ada di Indonesia.

Bahkan, tidak hanya sekolah dan perguruan tinggi, tempat-tempat keramaian lain, seperti mall, warung kopi, tempat rekreasi, dan lain-lain, juga tidak luput dari bayang-bayang covid-19 ini.

Alasan utama ditutupnya sekolah ini, adalah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Karena, covid-19 ini termasuk salah satu virus yang sangat mematikan, di sendiri Indonesia, sudah banyak orang yang dinyatakan Positif terpapar oleh virus ini.

Meski begitu banyaknya efek yang ditimbulkan akibat penyebaran covid-19 ini, pemerintah tidak serta merta diam begitu saja, berbagai solusi pun kemudian dirumuskan oleh pemerintah, terutama dalam hal kegiatan proses belajar mengajar.

Dikeluarkannya surat edaran no.4 tahun 2020 dari Menteri pendidikan dan kebudayaan yang menganjurkan seluruh kegiatan di institusi pendidikan harus jaga jarak dan seluruh penyampaian materi akan disampaikan dirumah masing-masing (Syafrizal,2020), adalah merupakan suatu bentuk keseriusan pemerintah agar dunia pendidikan bisa terus berlangsung.

Pembelajaran Online/Daring adalah salah satu kebijakan yang terpaksa diambil pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dimasyarakat, terutama di lingkungan lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Dan kebijakan itu, tidak akan efektif, bila semua pihak tidak mau saling bekerja sama dengan.

Dalam pandangan pribadi penulis sendiri, efektivitas Pembelajaran dengan cara online, tentulah memiliki banyak kekurangan.

Pembelajaran online, tidaklah seindah Pembelajaran Offline/tatap muka. Sebab, saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, lebih mudah memahami materi-materi yang disampaikan oleh Dosen bila dilakukan secara tatap muka dibandingkan online.

Dalam pembelajaran offline, mahasiswa lebih aktif bertanya dan berdiskusi di banding dengan pembelajaran online. Selain itu, karena pembelajaran oline ini dinilai tidak begitu efektif, tidak jarang membuat mahasiswa cenderung malas belajar, karena keberadaan dosen dan mahasiswa tidak berada di tempat yang sama (kelas) saat proses belajar mengajar tengah berlangsung.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah, dalam pembelajaran online ini, seringkali mahasiswa dihadapkan dengan persoalan gangguan jaringan dan media alat komunikasi. Sehingga tidak jarang mahasiswa menjadi acuh tak acuh dalam belajar, tidak terlalu aktip dalam proses tanya jawab, dan tidak begitu serius dalam mengikuti penyampaian materi.

Selain itu, dalam proses pembelajaran online ini juga, masalah lain yang didapati adalah, masih adanya mahasiswa yang tidak memiliki alat komunikasi (Handphone).

Agar proses pembelajaran online ini bisa berjalan dengan baik, pemerintah perlu kiranya untuk merumuskan solusi yang terbaik, agar, keberlangsungan dunia pendidikan ini bisa tetap berjalan kedepan.

Semoga…

 

Penulis : Nurul Holizah ( Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN Mandailing Natal).

Komentar

Pos terkait