Perubahan Interaksi Sosial Ditengah Bencana Covid-19

foto: Penulis: Siti Rahma Harahap, M.A. (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal, Indonesia

 

Interaksi sosial merupakan hal yang dapat membuat seseorang memperoleh pandangan yang dinamis tentang kehidupan masyarakat baik secara pribadi dan kelompok. Hal tersebut memiliki aspek struktural dan prosesual, dimana ada kelompok-kelompok sosial,  kebudayaan, lembaga sosial, stratafikasi, kekuasaan yang mempunyai suatu derajat dinamika tertentu yang  melahirkan pola-pola perilaku dan kehidupan berbeda, terlebih pada situasi dan keadaan yang semakin lama memberikan dampak dan pengaruh yang besar kehidupan nyata masyarakat.

Belakangan, masyarakat dihadapkan pada situasi yang tidak biasa. dimana situasi dunia seakan berubah total akibat adanya Pandemi Virus Corona (Covid-19). Kehadiran virus tersebut, sedikit banyak berdampak pada pola kehidupan masyarakat, sehingga menyebabkan interaksi sosial juga berubah.

Bentuk umum dari proses sosial adalah interaksi sosial, sedangkan bentuk khususnya adalah aktivitas-aktivitas  sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara  perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara perorangan dengan kelompok manusia.

Ada beberapa faktor berlangsungnya  proses  interaksi  sosial, diantaranya; Pertama, Imitasi adalah suatu proses meniru seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Kedua, Sugesti faktor ini berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang  kemudian diterima oleh pihak lain. Ketiga, Identifikasi merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan  dalam diri seseorang untuk menjadi  sama dengan pihak lain. Keempat, Simpati suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.

Pada sistem Sosial Statics (Statika Sosial atau Struktur Sosial), terdapat beberapa bidang yang dapat di kaji tentang proses interaksi sosial mayarakat di tengah pandemi virus Covid 19. Pertama, Kelompok sosial, merupakan kehidupan bersama manusia dalam himpunan atau kesatuan manusia yang umumnya secara fisik relatif kecil yang hidup secara guyub. Covid-19 yang bukan hanya berdampak kepada segi kesehatan juga memberikan pengaruh pada kelompok sosial. Seperti melakukan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) pada setiap daerah, pelarangan masyarakat luar daerah masuk ke daerahnya adalah contoh dari kelompok sosial. Padahal sebelum adanya pandemi ini, tidak ada satupun daerah atau keluarga yang membatasi orang-orang datang ke wilayah dan keluarga mereka.

Kemudian, Pranata Sosial yang merupakan tatanan peraturan yang mengatur interaksi dan proses sosial di dalam masyarakat seperti aturan, norma, adat istiadat yang mengatur kebutuhan manusia, disaat pandemi telah merubah tatanan sosial masyarakat dalam melakukan interaksi. Hal ini dikarenakan pandemi virus Covid-19. Adanya aturan  Psycal Distancing/Sosial  Distancing  merupakan salah satu bentuk Paranata  Sosial yang dibuat oleh pemerintah.

Pada masa pandemi Covid-19 staratafikasi sosial banyak terjadi dimasyarakat khsusunya pada segi  ekonomi. Masyarakat dihadapkan pada gejolak pengangguran yang merajalela. Akibat pembatasan sosial dan larangan untuk bekerja diluar, banyak masyarakat  yang kehilangan pekerjaan dan mata  pencariannya. Bekerja dirumah menjadi  salah satu faktor adanya stratafikasi ini.

Terdapat pro dan kontra dari hal ini, masyarakat yang mengeluhkan bekerja dari rumah karena mereka hanya akan mendapatkan penghasilan dengan bekerja di luar sementara yang bekerja tidak harus dari luar menyetujui dan mendukung program pemerintah dengan bekerja diluar. Seperti Pegawai swasta dengan pegawai negeri sipil, atau pengusaha yang memakai jaringat internet adalah salah satu yang mengalami stratafikasi sosial ini. Ketimpangan seperti ini amat sangat  membahayakan dalam lapisan masyarakat, karena akan menimbulkan kecemburuan sosial yang membahayakan masyarakat itu sendiri.

Dengan menanamkan kepedulian, membantu dan bersatu memerangi pandemi Covid-19 akan menjadi  solusi untuk menghindari stratafikasi sosial.

Selajutnya, Mobilitas Sosial (Sosial Mobility) atau sebagai suatu gerak perpindahan dari suatu kelas  sosial ke kelas sosial lainnya, di masa pandemi  Covid1-19 juga banyak perubahan dan  pergerakan yang melanda masyarakat. Di mulai dari aktivitas pendidikan, pekerjaan, perolehan pendapatan, pertemuan, ibadah dan banyak lagi.

Dalam menghindari Covid-19 seperti yang dianjurkan oleh pemerintah, secara tidak sadar menyebabkan terjadinya pergeseran budaya. Atau lebih tepatnya kebiasaan baru. Seperti tidak beribadah di tempat ibadah, tidak melakukan pesta, tidak sekolah diluar, bekerja dirumah dan rajin mencuci tangan serta menjaga kebersihan, memakai masker, dan lain-lain. Akibatnya, proses interaksi sosial masyarakat menjadi berubah.

Oleh karena itu, di masa pandemi virus Covid-19 sekarang ini, proses interaksi sosial masyarakat memerlukan pendekatan-pendekatan sosiologis,. seperti intervensi sosial dengan  melakukan pelayanan sosial guna  memberikan pemahaman kepada  masyarakat agar tetap menjaga keseimbangan sosial, Selain itu, pemerintah sebagai stakeholder juga perlu melakukan Edukasi secara normal kepada masyarakat tentang adaptasi kebiasaan baru sekarang ini, agar nantinya, tidak mengakibatkan terjadinya ketimpangan dalam proses interaksi sosial di era kebiasaan baru.

 

Penulis: Siti Rahma Harahap, M.A.
(Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal, Indonesia)

 

Komentar

Pos terkait