Beranda Opini Transformasi Desa Lewat Jalur Kearifan Lokal

Transformasi Desa Lewat Jalur Kearifan Lokal

85
0
Foto: Penulis : Siti Rahma Harahap, M.A. (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal, Indonesia)

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di Dunia. Kepulauan Indonesia terdiri dari atas17.504 pulau besar dan kecil. Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3,977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas lautnya 3.257.483 km².

Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar ke empat di dunia dengan lebih dari 260 juta jiwa. Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132,107 km², Sumatra dengan luas 473,606 km², Kalimantan dengan luas 539,460 km², Sulawesi dengan luas 189,216 km², dan Papua dengan luas 421,981 km².

Sumber daya alam Indonesia terdiri dari minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian tanah yang terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, penanaman sebesar 7%, padang rumput sebesar 7% , hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan seluas 45.970 km. Dan yang tidak kalah pentingnya dari Indonesia adalah, beraneka ragam kekayaan alam, suku bangsa, budaya dan bahasa.

Keragaman suku bangsa, bahasa tersebut, merupakan khazanah bangsa Indonesia yang tak bisa didapat harganya. Hal ini pasti sudah disadari oleh bangsa Indonesia, oleh karena itu, variasi ini sangat dipelihara dan disetujui Negara. Seni dan budaya yang menonjol dikembangkan menjadi budaya Nasional.

Keberagaman yang ada di Indonesia, tidak terbalik membuat bangsa Indonesia terpecah-belah. Akan tetapi, Keberagaman tersebut dibuat dasar untuk membina persatuan Bangsa, yaitu dengan dasar Negara. Bangsa Indonesia memiliki dasar negara yang menjadi falsafah di negara yang dikenal dengan Pancasila. Pancasila dibuat sebagai dasar negara oleh masyarakat Indonesia untuk membuat Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di Era New Normal seperti sekarang ini, dengan keanekaragaman bangsa Indonesia yang masih tetap terjaga, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan kearifan lokal, sangat menjadi bahan pertimbanhan kiranya bagi kita semua terkhusus pemerintah dalam membangun Desa. Yakni, dengan mengedepan kearifan lokal untuk membangun desa guna mewujudkan Transformasi Desa dengan sebaik-baiknya.

Dalam hal ini, ada yang menjadi prioritas utama pemerintah dalam melakukan Transformasi Desa, yaitu lewat jalur kearifan lokal masyarakat setempat. Hal tersebut, sejalan dengan spirit Undang-undang Desa No 6 Tahun 2014 adalah bagaimana mewujudkan desa yang maju dan mandiri dengan berbasis pada budaya.

Selain itu, penataan sistem pendidikan yang baik dan berkualitas juga menjadi jalur yang strategis dalam melakukan Transformasi Desa. Untuk menggapai hal itu, diperlukan penataan terhadap sistem pendidikan yang lengkap, khusus tentang kualitas pendidikan dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Dalam pelaksanaannya Pemerintah memiliki peran penting dalam penyelenggarannya, yaitu dengan berorientasikan pada penguasaan iptek yang setara di seluruh Indonesia.

Selanjutnya adalah menguatkan nilai-nilai Religius dalam kehidupan sosial masyarakat dalam rangka memperkokoh kepribadian. Hal ini penting, sebab jika tidak memiliki kepribadian bisa dipastikan kedepan bangsa kita akan lemah.

Selanjutnya adalah Peningkatan Kapasitas SDM melalui berbagai pelatihan, kompetensi, pembinaan dan lain-lain. Dalam hal ini juga, Pemerintah memegang peranan penting dalam program-program strategis guna memperoleh SDM unggul.

Selanjutnya adalah pembinaan dan pengembangan generasi muda atau generasi muda. Dimana generasi muda dilibatkan sebagai aktor utama dalam roda pembangunan. Sebab dengan memberdayakan kaum milenial akan lebih besar terciptanya generasi yang kreatif, inovatif dan berdaya saing tinggi. Semoga Saja.

 

 

Penulis : Siti Rahma Harahap, M.A.
(Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal, Indonesia)

Komentar