Beranda Sejarah Syekh Abdul Wahab bin Abdul Rauf, Ulama dari Panai Hilir Pendiri Madrasah...

Syekh Abdul Wahab bin Abdul Rauf, Ulama dari Panai Hilir Pendiri Madrasah Ittihadul Wathaniyah

121
0

 

Madrasah ini didirikan oleh seorang ulama bernama Syekh Abdul Wahab bin Abdul Rauf. Ia lahir pada tahun 1864 di Sei Lumut kecamatan panai hilir, yang masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Bilah. Ayahnya H. Abdul Rauf ketika itu menjadi guru agama, penyair dan mubaligh Islam di daerah Labuhan Bilik. Ia bercita-cita supaya anaknya Abdul Wahab kelak menjadi seorang ulama yang tekemuka. Karena itu sejak kecil beliau dididik oleh orangtuanya dengan didikan ajaran agama tanpa memasuki sekolah umum.

Di dalam didikan orang tuanya itu, beliau tumbuh menjadi seorang yang cerdas. Karena di dalam usia 14 tahun telah dapat menguasai dan menghayati ilmu-ilmu agama yang dipelajarinya. Sebab itu orang tuanya bertekad untuk mengirim beliau ke tanah suci Makkah untuk melanjutkan dan memperdalam ilmu-ilmu agama.

Pada tahun 1882 ketika beliau berumur 14 tahun,ia diberangkatkan menuju Makkah. Disamping niat menuntut ilmu juga untuk menunaikan ibadah Haji. Setelah selesai mengerjakan ibadah haji, ia terus bermukim untuk memperdalam ilmu pengetahuannya.

Di antara gurunya ialah Syekh Ahmad Al-Khayyath seorang ulama yang terkenal pada masa itu. Sebelas tahun lamanya ia bermukim di Makkah al- Mukarramah untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Ketika ia telah merasa sanggup untuk mengajarkan ilmu agama, maka pada tahun 1893 ia kembali ke tanah air.

Tempat yang dipilihnya untuk mengajarkan ilmu agama itu adalah kampung halamannya sendiri Sei Lumut. Masyarakat menyambut kedatangannya denganbmeriah, karena gembira dan bersyukur dengan kedatangan seorang ulama yang diharapkan akan memberikan penerangan. Ketika itu ia telah berumur 25 tahun, sebab itu pada tahun itu juga ia dinikahkan dengan seorang puteri bernama Fatimah binti Khalifah Abdul Rasyid.

Kemudian ia pun mulai mengembangkan pelajaran agama dikampungya itu, dan murid-murid berdatangan dari sekitar Labuhan Bilik, terutama karena penduduk di daerah itu adalah orang-orang yang taat terhadap agama dan haus kepada ilmu pengetahuan.

Di samping itu pengaruh orang tuanya H. Abdul Rauf yang selama ini menjadi muballigh di daerah itu membuat anaknya H. Abdul Wahab cepat mendapat kepercayaan dan tempat terhormat di tengah-tengah masyarakat. Karena ayahandanya, Syekh Abdul Wahab di dalam memberikan pengajaran-pengajaran agama, dapat menerangkan berbagai-bagai persoalan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan, oleh karena itu masyarakat merasa simpati dan ia pun cepat terkenal dan populer.

Karena itu pada tahun 1893 itu juga ia dipanggil oleh Sultan Abbas Sultan Kerajaan Negeri Lama (Bilah) dan kepadanya diminta supaya bersedia tinggal di istana untuk mengajarkan agama kepada pembesar-pembesar kesultanan dan masyarakat. Permintaan itu diterimanya, karena dengan sendirinya daerah pengajarannya akan bertambah luas dalam memantapkan pengembangan dan penyiaran agama Islam.

Selama 14 tahun ia mengajar di istana untuk pembesar-pembesar kerajaan, di samping itu ia diberi jabatan sebagai Mufti Kerajaan. Pada masa itu tidak penah terjadi pertentangan-pertentangan keagamaan berkat kebijaksanaannya dalam menerangkan dan meletakkan sesuatu hukum. Apalagi ia terkenal seorang yang jujur, hingga seluruh masyarakat cinta dan sayang kepadanya. Mengingat jasa-jasanya dalam mengembangkan agama di Negeri Lama serta dengan kebaikan akhlak dan budinya, maka Sultan Abbas meminta ia agar bersedia mempersunting puteri Sultan sendiri yang bernama Tengku Kamariyah, dan permintaan itu diterimanya.

Ketika itu dapat dikatakan bahwa perkembangan ajaran Islam berjalan dengan lancar serta mendapat sambutan baik dari masyarakat. Selain mengajar di istana dan dirumahnya sendiri ia juga mengajar pada beberapa masjid di sekitar Negeri Lama, dan di beberapa tempat lainnya di daerah Labuhanbatu. Sebab itu ia memiliki banyak teman dan murid yang membantu penyiaran dan pengembangan agama Islam. Bahkan di antara muridnya itu ada yang mendirikan madrasah, seperti H.M. Nurdin mendirikan Madrasah Arabiyah di Labuhan Bilik.

Pada masa itu ia juga turut memasuki Partai Politik Serikat Islam di Labuhan Bilik, yang didirikan oleh H.M. Nurdin tersebut diatas, dan kedudukannya adalah sebagai penasehat. Setelah 14 tahun ia mengajar di Negeri Lama, pada suatu waktu sampailah kepadanya suatu berita, bahwa Sultan ingin meminang puterinya yang bernama Salmiyah untuk menjadi isteri putera Sultan sendiri yang bernama Tengku Hasyim. Lalu ia pindah kembali kekampungnya Sungai Lumut.

Setelah ia menetap kembali dikampungnya itu, pada tahun 1923 ia mendirikan Madrasah bernama Al-Ittihadul Wathaniyah yang dipimpinnya sendiri. Murid-murid dari Madrasah Arabiyah Labuhan Bilik banyak yang pindah ke Madrasah Ittihadul Wathaniyah, hingga akhirnya Madrasah Arabiyah tersebut ditutup.

Di samping itu banyak pula murid-murid yang berdatangan dari daerah lain seperti dari Bagan Bilah, Ajamu, Kotapinang, Raso, Negeri Lama dan Tanjung Balai. Murid-muridnya mendirikan pondok-pondok di Sei Lumut untuk tempat tinggal mereka yang jumlahnya sampai ratusan. Madrasah tersebut terdiri atas lima kelas, lengkap dengan bangku, meja, kursi dan alat-alat lainnya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peralatan di madrasah ini telah mengikut peralatan yang digunakan di sekolah umum. Madrasah ini memisahkan kelas untuk murid laki-laki dan perempuan.

Untuk murid perempuan disediakan kelas tersendiri. Pembelajaran berlangsung pagi hari, mulai pukul 08.00 s/d 12.00. Kitab-kitab yang digunakan antara lain adalah Ḥusnul Ḥāmidiyah, Jalālain, Fatḥ al-Qarīb, al-Akhlāq li al-Banīn, at-Tārīkh al￾Islāmī, al-Ajurrūmiyah, Naḥw al-Wāḍiḥ, Taṣrīf al-Wāḍiḥ, dan Kailānī.

Pada sore harinya syekh Abdul Wahab menggunakan waktunya untuk mencari nafkah, karena ia tidak bergaji. Sedangkan malam hari ia gunakan waktunya untuk mengajar orang-orang tua masyarakat Sei Lumut.

Syekh Abdul Wahab memimpin madrasahnya dengan sungguh-sungguh dan tabah hingga murid-muridnya terus bertambah banyak. Ia disayangi oleh murid-muridnya dan masyarakat Labuhan Batu umumnya karena ia dianggap tempat menjernihkan yang keruh, menguraikan yang kusut dan menerangkan yang gelap. Perkataannya selalu menjadi pegangan masyarakat dengan semboyan “demikian kata tuan Wahab”. Disamping mengajar, ia juga terus menjadi mufti sejak dari masa ia tinggal di Negeri Lama sampai akhir hayatnya.

Pada tahun 1924 setahun setelah berdirinya Madrasah Ittihadul Wathaniyah itu. Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan undang-undang yang disebut “Guru Ordonantie” yang mengharuskan tiap-tiap guru atau sekolah-sekolah swasta supaya mempunyai surat-surat mengajar dan kalau tidak sekolah yang bersangkutan dianggap sekolah liar dan dapat diancam dengan hukuman berikut:

a. Denda sebanyak Rp.25.- atau kurungan lima hari.

b. Sekolah/madrasah yang bersangkutan ditutup dua tahun.

Undang-undang tersebut telah disampaikan oleh yang berwajib kepada seluruh sekolah/madrasah, tidak terkecuali Madrasah Al-Ittihadul Wathaniyah yang dipimpin oleh Syekh Abdul Wahab. Ia telah berkali-kali diperingatkan oleh pemerintah setempat supaya mempunyai surat izin mengajar, tetapi ia tetap menentang. Menurutnya ajaran agama itu adalah ajaran yang suci yang tidak perlu dicampuri oleh siapapun, sepanjang tidak menyimpang dari norma-norma keagamaan dan kesusilaan.

Sebab itu Pemerintah Kolonial Belanda semakin curiga terhadapnya. Apalagi karena pemerintah mendapat laporan-laporan bahwa ia selalu menghasut masyarakat untukmenentang Pemerintah Kolonial antara lain supaya jangan membayar belasting, karena pembayaran tersebut hanya akan menambah kuat ekonomi Belanda, sedang rakyat menderita, miskin dan melarat, tetapi berbuatlah kerja pasar (memperbaiki jalan-jalan) dengan amal jariyah wakaf kepada umat manusia.

Berhubung Pemerintah setempat tidak merasa senang atas pembangkangan tersebut, maka Asisten Residen Tanjung Balai datang sendiri ke Labuhan Bilik untuk langsung menemuinya, karena pada saat itu bidang pendidikan di daerah itu berpusat di Tanjung Balai.

Dalam pertemuan itu ia tetap pada pendiriannya tidak bersedia mematuhi peraturan “Guru Ordonantie” tersebut, meskipun bermacam-macam pertanyaan dan keterangan yang disampaikan kepadanya antara lain dikatakan bahwa sekolah-sekolah/guru-guru yang lain telah mematuhi peraturan itu. Tetapi dengan spontan ia menjawab bahwa jika ada orang yang mendirikan/membina ka’bah di pulau ini saya tidak akan turut membenarkannya sebab agama saya dari Allah. Maksud perkataannya yaitu bila seseorang mendirikan sesuatu padahal sudah dijadikan Allah, maka orang itu melampaui hukum Allah. Sedang ia bukan mendirikan sesuatu yang baru, tetapi meneruskan ajaran Nabi Muhammad SAW, yaitu mengembangkan ilmu-ilmu agama Islam. Jawaban yang disampaikan Syekh Abdul Wahab membuktikan bahwa ia tidak mengindahkan peraturan Guru Ordinantie tersebut.

Dengan demikian Asisten Residen memerintahkan supaya Madrasah Al-Ittihadul Wathaniyah itu ditutup dan sekaligus menangkapnya yang akhirnya dihukum kurungan lima hari atau denda Rp. 25,-. Ia memilih menjalani kurungan lima hari. Hukuman penjara tersebut dijalaninya bukan karena tidak sanggup membayar denda, tetapi karena prinsipnya bahwa denda itu menguatkan ekonomi Belanda dan sekaligus membantu orang kafir. Banyak orang-orang yang bersedia untuk membayar denda itu. Bukan saja dari orang-orang Islam, bahkan dari kalangan Tionghoa bersedia memberikan uang sebanyak Rp.500,- ketika itu agar ia tidak sampai masuk kurungan, tetapi ia tetap atas pendiriannya dan menolak semua tawaran itu.

Demikianlah ia berkorban, mendekam dalam kurungan selama 5 hari. Setelah selesai menjalani hukuman tersebut dibentuklah suatu panitia untuk memprotes dan menentang tindakan Pemerintah Kolonial itu yang terdiri atas:

Ketua : Syekh Abdul Wahab

Sekretaris : Raja Sulaiman

Keuangan : Ongah Balon

Penasehat : Mangaraja Ihutan

Pembantu-Pembantu:

1. Ali ‘Asyura

2. H. Hamzah

3. H. Mhd. Amin

4. H. Mhd. Soleh

5. Ja’far Husin.

Panitia mengadakan rapat dengan mengambil suatu keputusan untuk mengutus Syekh Abdul Wahab dan Mangaraja Ihutan menghadap Governeur-General (Adviseur voor Inslansche Zaken) di Batavia untuk menyampaikan protes atas tindakan pemerintah setempat terhadap Syekh Abdul Wahab dan madrasahnya.

Dalam pertemuannya dengan anggota Adviseur voor Inslansche Zaken ia masih ditekan supaya mengikuti peraturan “Guru Ordonantie” itu, tetapi dengan semangat yang penuh ia tetap menolak. Berkat ketabahan hatinya berjuang, akhirnya tuntutannya tercapai yaitu dengan persetujuan Governeur-General. Keputusan menutup sekolahnya itu dicabut dan ia boleh kembali membukanya, serta boleh mengajar tanpa izin. tetapi tidak boleh mengajarkan :

a. Ilmu Ḥisāb

b. Ilmu Manṭiq

c. Balaghah

d. Tārīkh (Sejarah Islam)

e. Lughatul ‘Arabiyah dan

f. Khaṭ (Tulis Indah)

Kemudian ia pulang kembali bersama dengan Mangaraja Ihutan dengan membawa hasil perjuangan bagi umat Islam, khususnya di lingkungan daerahnya. Selanjutnya ia kembali membuka madrasahnya itu tanpa rintangan apapun.

Begitulah cara Pemerintah Kolonial mengizinkan pembukaan madrasah kembali, tetapi melarang pengajaran beberapa mata pelajaran yang penting seperti al-Lughah al-Arabiyah dan Balaghah, dimana kedua mata pelajaran itu adalah syarat mutlak untuk mendalami Ilmu Agama Islam dari sumbernya yang asli yakni Alquran dan Hadits.

Meskipun demikian ilmu-ilmu tersebut tetap diajarkannya secara diam-diam. Hasil usahanya dapat dirasakan masyarakat, penyiaran dan pengajaran Islam makin berkembang dan banyak orang yang dapat pengetahuan daripadanya. Sumber penghidupannya ketika itu antara lain dengan bantuan atau sedekah dari wali murid yang selalu mengalir berupa padi, buah-buahan dan lain-lain.

Ketika berumur 70 tahun ia pergi lagi menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarromah yaitu sebelum terjadi perang dunia ke-2. Kemudian 7 bulan setelah kembali, ia menderita penyakit darah tinggi yang pada masa itu amat sukar untuk mengobatinya. Kalaupun ada dokter-dokter yang sanggup namun pada masa itu hanya ada dalam lingkungan dokter-dokter Belanda yang tidak disukainya.

Di samping itu, ia menyatakan bahwa perjalanannya menuju hadrat Allah swt. Tidak dapat ditahan-tahan lagi, dan akhirnya ia berpulang Kerahmtullah pada tahun 1942. Sepeninggalnya tidak ada yang mampu meneruskan pekerjaannya memimpin madrasah itu terutama setelah pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942 hingga akhirnya Madrasah Al-Ittihadul Wathaniyah itu ditutup.

Di masa hayatnya Syekh Abdul Wahab mengizinkan murid-muridnya membuka madrasah dengan menggunakan nama Al-Ittihadul Wathaniyah. Bahkan menurut Faqih Adam Said, Al-Ittihadul Wathaniyah sudah menjadi organisasi kemasyarakatan yang pengurus besarnya berkedudukan di Labuhan Batu.

Pada tahun 1941, setahun sebelum Syekh Abdul Wahab meninggal dunia, diadakan Kongres I yang menetapkan pengurus sebagai berikut:

Voorzitter : R.H. Hamzah

Sekretaris : H.M. Salehuddin

Penningmeester : L.A. Hamid

Commisaris : Bilal Muhammad

H.M. Nur Kadli

Penasehat : Syekh Abdul Wahab

Majelis Tarbiyah : H. Ahmad Abdul Halim, guru di Negeri Lama

A. Manan Djalil, guru di Jawi-Jawi

Lebai Sjahdan, guru di Marbau

A. Effendi, guru di Bilah Estate

Nahruddin, guru di Negeri Lama

Zainuddin, guru Bagan Bilah207

Saat ini madrasah yang menggunakan nama Al-Ittihadul Wathaniyah masih bisa dilihat di Negeri Lama. Madrasah yang terletak di Jl. Pembangunan, Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhan Batu tersebut mengasuh jenjang Pendidikan Anak Usia Dini, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Lembaga pendidikan yang didirikan oleh organisasi kemasyarakatan IslamPada tahun 1892-1942 di Sumatera Timur berdiri tiga organisasi kemasyarakatan Islam, yaitu Muhammadiyah, Al-Jam’iyatul Washliyah, dan Al Ittihadiyah. Berdirinya organisasi ini membawa suasana baru bagi umat Islam dipanai hilir. Ketiganya selain ingin mengembangkan dakwah Islamiyah di Sumatera Timur, juga ingin memberikan kemudahan bagi anak-anak muslim untuk mendapat pendidikan.

Dengan demikian salah satu program kerja yang mereka kembangkan adalah bidang pendidikan, kumpulan pemikiran ulama terdahulu itu berkumpul dalam suatu wadah organisasi aswaja, itu lah yg menyebabkan masyarakat pesisir mengikuti manhaj salaf. Sekarang wadah utk menyatukan akidah yg diajarkan ulama panai hilir mesti dijaga dan diteruskan. Itu wujud kepedulian kita sbg penerus perjuangan ulama.

Oleh karena itulah MWC NU Panai Hilir lahir bukan sebagai aliran baru, melainkan wadah utk meneruskan perjuangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sekolah yg mirip ittihadul wathoniyah berkembang di panai hilir, Al-ittihadiyah(yayasan dikelola keluarga Ketua Tanfidziah MWC NU), al-Washliyah (dikelola oleh Ch.H.abd.wahab keluarga persulukan Thoriqot Naqsabandiyyah), dan sekolah Hubbul Wathon (yayasan didirikan oleh Mustasyar MWC NU Panai Hilir).

(sumber : akun FB MWC NU Panai Hilir)

 

 

Komentar